BANYUMAS, GANDARIA.WEB.ID — Layanan Bus Trans Banyumas terancam berhenti beroperasi setelah anggaran operasional yang tersedia diperkirakan hanya mampu menopang layanan hingga 28 Agustus 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Trans Banyumas selama ini menjadi salah satu pilihan transportasi publik masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, sekolah, kuliah hingga perjalanan antar kawasan di Banyumas.
Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas telah mengusulkan tambahan anggaran agar layanan transportasi tersebut tetap berjalan hingga akhir tahun. Kebutuhan biaya operasional Trans Banyumas disebut mencapai sekitar Rp3,3 miliar setiap bulan.
Untuk menjaga keberlangsungan layanan selama September hingga Desember 2026, pemerintah daerah mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp15 miliar. Namun, kepastian mengenai tambahan dana tersebut masih menunggu keputusan pemerintah daerah.
Tarif Berpotensi Naik
Persoalan anggaran juga membuka kemungkinan adanya perubahan skema pembiayaan, termasuk tarif yang harus dibayarkan penumpang.
Selama ini, tarif Trans Banyumas dapat dijaga tetap terjangkau karena adanya dukungan subsidi pemerintah. Namun, apabila kemampuan pembiayaan pemerintah terbatas, penyesuaian tarif menjadi salah satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga layanan tetap berjalan.
Kenaikan tarif tentu akan menjadi perhatian masyarakat, terutama pengguna yang mengandalkan Trans Banyumas sebagai transportasi utama untuk aktivitas sehari-hari.
Bodi Bus Bisa Dimanfaatkan untuk Iklan
Selain tambahan anggaran, pemerintah juga dapat mencari sumber pendapatan lain untuk membantu menopang operasional Trans Banyumas.
Salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan bagian luar atau bodi bus sebagai media iklan dan branding.
Potensi tersebut cukup besar mengingat Trans Banyumas memiliki jumlah pengguna yang tinggi. Sepanjang 2025, jumlah penumpang Trans Banyumas dilaporkan hampir mencapai 2 juta orang.
Dengan jumlah perjalanan dan penumpang yang besar, armada Trans Banyumas dinilai memiliki nilai komersial sebagai media promosi.
Pendapatan dari iklan nantinya dapat menjadi sumber tambahan untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap subsidi pemerintah.
Beban Operasional Diperkirakan Menurun
Di tengah ancaman penghentian layanan, terdapat peluang kondisi pembiayaan Trans Banyumas menjadi lebih ringan pada 2027.
Salah satu faktor yang diharapkan mengurangi beban anggaran adalah selesainya cicilan pengadaan armada. Dengan berkurangnya beban tersebut, kebutuhan biaya operasional diperkirakan dapat menurun.
Penurunan kebutuhan anggaran diperkirakan berada di kisaran 25 hingga 35 persen setelah sejumlah komponen biaya berkurang.
Namun, sebelum kondisi tersebut tercapai, pemerintah tetap harus memastikan tersedianya anggaran untuk menjaga layanan Trans Banyumas tetap beroperasi hingga akhir 2026.
Masyarakat Menunggu Kepastian
Ancaman berhentinya Trans Banyumas bukan hanya persoalan pengelolaan anggaran. Keberadaan transportasi publik tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Banyumas.
Karena itu, keputusan mengenai tambahan anggaran menjadi penting untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap transportasi umum yang aman dan terjangkau.
Pemerintah daerah kini dihadapkan pada pilihan untuk memastikan keberlanjutan layanan melalui tambahan anggaran, optimalisasi pendapatan dari aset seperti bodi bus, maupun penyesuaian skema tarif.
Jika pendanaan tidak segera mendapatkan kepastian, masyarakat pengguna Trans Banyumas harus bersiap menghadapi kemungkinan terganggunya layanan setelah 28 Agustus 2026.
