![]() |
| ilustrasi tempe mendoan (vecteezy.com/Suretianto) |
BANYUMAS, GANDARIA.WEB.ID — Tempe mendoan bukan sekadar makanan khas Banyumas. Di balik bentuknya yang sederhana, mendoan juga lekat dengan nilai keramahan, keterbukaan, dan cara masyarakat Banyumas dalam memuliakan tamu.
Nama mendoan berasal dari kata mendo dalam bahasa Banyumasan yang berarti lembek atau setengah matang. Cara pengolahannya yang khas membuat mendoan memiliki tekstur berbeda dari gorengan pada umumnya.
Bagi masyarakat Banyumas, mendoan yang disajikan hangat dapat menjadi bagian dari tradisi menerima tamu. Hidangan sederhana tersebut menjadi sarana untuk menciptakan suasana akrab dan mempererat hubungan antar sesama.
Sederhana, tetapi Penuh Makna
Bahan mendoan yang relatif sederhana, seperti tempe, tepung, daun bawang dan bumbu dapur, mencerminkan sikap tidak berlebihan dalam menjamu tamu.
Nilai yang ditonjolkan bukan kemewahan hidangan, melainkan ketulusan tuan rumah dalam menyambut orang yang datang.
Karakter mendoan yang lembut dan tidak kaku juga kerap dikaitkan dengan karakter masyarakat Banyumas yang dikenal terbuka, luwes dan egaliter. Nilai keterbukaan tersebut merupakan bagian dari identitas budaya Banyumasan.
Mendoan dan Identitas Banyumas
Tradisi menyajikan mendoan hingga kini masih bertahan di tengah perubahan zaman. Makanan ini bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia pada 2021.
Karena itu, mendoan tidak hanya dapat dipandang sebagai kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari kearifan lokal Banyumas.
Sepiring mendoan hangat menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana masyarakat Banyumas menjaga keramahan, kebersamaan dan hubungan baik dengan sesama.
